Ngentot Dengan Anak Majikan

CeritaRemajaXXX - Pertama aku kerja dan berangkat ke kota Jember tepatnya di perumahan daerah kampus. Aku terkagum-kagum dengan rumah juragan baruku ini, disamping rumahnya besar halamannya juga luas. Juraganku sebut saja namanya Pak Ruslan, Ia Jajaran direksi Bank ternama di kota Jember, Ia mempunya dua Anak Perempuan yang satu baru saja berkeluarga dan yang bungsu kelas 3 SMA namanya Lolita, usianya kira-kira 18 tahun.

ceritaremajaxxx.blogspot.com

Sedangkan istrinya membuka usaha sebuah toko busana yang juga terbilang sukses di kota tersebut, dan masih ada satu pembantu perempuan Pak Ruslan namanya Bik Umi usianya kira-kira 27 tahun. Teman Lolita banyak sekali setiap malam minggu selalu datang kerumah kadang pulang sampai larut malam, hingga aku tak bisa tidur sebab harus nunggu teman Non Lolita pulang untuk mengunci gerbang, kadang juga bergadang sampai pukul 04.00. Mungkin kacapekan atau memang ngantuk usai bergadang malam minggu, yang jelas pagi itu kamar Non Lolita masih terkunci dari dalam. Aku nggak peduli sebab bagiku bukan tugasku untuk membuka kamar Non Lolita, aku hanya ditugasi jaga rumah ketika Pak Ruslan dan Istrinya Pergi kerja dan merawat tamannya saja.

Pagi itu Pak Ruslan dan Istrinya pamitan mau keluar kota, katanya baru pulang minggu malam sehingga dirumah itu tinggal aku, Bik Umi dan Non Lolita. Jam sudah menunjukkan pukul 08.00 tapi Non Lolita masih belum bangun juga dan Bik Umi sudah selesai memasak.

"Juni, aku mau belanja tolong pintu gerbang dikunci."
"Iya Bik!" jawabku sambil menyiram tanaman didepan rumah. Setelah Bik Umi pergi aku mengunci pintu gerbang.

Setelah selesai menyiram taman yang memang cukup luas aku bermaksud mematikan kran yang ada di belakang. Sesampai didepan kamar mandi aku mendengar ada suara air berkecipung kulihat kamar Non Lolita sedikit terbuka berarti yang mandi Non Lolita. Tiba-tiba timbul niat untuk mengintip. Aku mencoba mengintip dari lubang kunci, ternyata tubuh Non Lolita mulus dan susunya sangat kenyal, kuamati terus saat Non Lolita menyiramkan air ke tubuhnya, dengan perasaan berdegap aku masih belum beranjak dari tempatku semula. Baru pertama ini aku melihat tubuh perempuan tanpa tertutup sehelai benang. Sambil terus mengintip, tanganku juga memegangi penisku yang memang sudah tegang, kulihat Non Lolita membasuh sabun keseluruh badannya aku nggak melewatkan begitu saja sambil tanganku terus memegangi penis. Aku cepat-cepat pergi, sebab Non Lolita sudah selesai mandinya namun karena gugup aku langsung masuk ke kamar WC yang memang berada berdampingan dengan kamar mandi, disitu aku sembunyi sambil terus memegangi penisku yang dari tadi masih tegang.

Cukup lama aku di dalam kamar WC sambil terus membayangkan yang baru saja kulihat, sambil terus merasakan nikmat aku tidak tahu kalau Bik Umi berada didepanku. Aku baru sadar saat Bik Umi menegurku,

"Ayo.. ngapain kamu."
Aku terkejut cepat-cepat kututup resleting celanaku, betapa malunya aku.
"Ng.. nggak Bik.." kataku sambil cepat-cepat keluar dari kamar WC. Sialan aku lupa ngunci pintunnya, gerutuku sambil cepat-cepat pergi.

Esoknya usai aku menyiram taman, aku bermaksud ke belakang untuk mematikan kran, tapi karena ada Bik Umi mencuci kuurungkan niat itu.

"Kenapa kok kembali?" tanya Bik Umi.
"Ah.. enggak Bik.." jawabku sambil terus ngeloyor pergi.
"Lho kok nggak kenapa? Sini saja nemani Bibik mencuci, lagian kerjaanmu kan sudah selesai, bantu saya menyiramkan air ke baju yang akan dibilas," pinta Bik Umi.

Akhirnya akupun menuruti permintaan Bik Umi. Entah sengaja memancing atau memang kebiasaan Bik Umi setiap mencuci baju selalu menaikkan jaritnya diatas lutut, melihat pemandangan seperti itu, jantungku berdegap begitu cepat

"Begitu putihnya paha Bik Umi ini" pikirku, lalu bayanganku mulai nakal dan berimajinasi untuk bisa mengelus-ngelus paha putih Bik Umi.
"Heh! kenapa melihat begitu!" pertanyaan Bik Umi membuyarkan lamunanku
"Eh.. ngg.. nggak Bik" jawabku dengan gugup.
"Sebentar Bik, aku mau buang air besar" kataku, lalu aku segera masuk kedalam WC, tapi kali ini aku tak lupa untuk mengunci pintunya.

Didalam WC aku hanya bisa membayangkan paha mulus Bik Umi sambil memegangi penisku yang memang sudah menegang cuma waktu itu aku nggak merasakan apa-apa, cuma penis ini tegang saja. Akhirnya aku keluar dan kulihat Bik Umi masih asik dengan cucianya.

"Ngapain kamu tadi didalam Jon?" tanya Bik Umi.
"Ah.. nggak Bik cuma buang air besar saja kok," jawabku sambil menyiramkan air pada cuciannya Bik Umi.
"Ah yang bener? Aku tahu kok, aku tadi sempat menguntit kamu, aku penasaran jangan-jangan kamu melakukan seperti kemarin ee..nggak taunya benar," kata Bik Umi
"Hah..? jadi Bibik mengintip aku?" tanyaku sambil menunduk malu.

Tanpa banyak bicara aku langsung pergi.
"Lho.. kok pergi?, sini Jun belum selesai nyucinya, tenang saja Jun aku nggak akan cerita kepada siapa-siapa, kamu nggak usah malu sama Bibik " panggil Bik Umi.
Kuurungkan niatku untuk pergi.
"Ngomong-ngomong gimana rasanya saat kamu melakukan seperti tadi Jon?" tanya Bik Umi.
"Ah nggak Bik,"jawabku sambil malu-malu.
"Nggak gimana?" tanya Bik Umi seolah-olah mau menyelidiki aku.
"Nggak usah diteruskan Bik aku malu."
"Malu sama siapa? Lha wong disini cuma kamu sama aku kok, Non Lolita juga sekolah, Pak Ruslan kerja?" kata Bik Umi.
"Iya malu sama Bibik, sebab Bibik sudah tahu milikku," jawabku.
"Oalaah gitu aja kok malu, sebelum tahu milikmu aku sudah pernah tahu sebelumnya milik mantan suamiku dulu, enak ya?"
"Apanya Bik?" tanyaku
"Iya rasanya to..?" gurau Bik Umi tanpa memperdulikan aku yang bingung dan malu padanya.
"Sini kamu.." kata Bik Umi sambil menyuruhku untuk mendekat, tiba-tiba tangan tangan Bik Umi memegang penisku.
"Jangan Bik..!!" sergahku sambil berusaha meronta, namun karena pegangannya kuat rasanya sakit kalau terus kupaksakan untuk meronta.

Akhirnya aku hanya diam saja ketika Bik Umi memegangi penisku yang masih didalam celana pendekku. Pelan tapi pasti aku mulai menikmati pegangan tangan Bik Umi pada penisku. Aku hanya bisa diam sambil terus melek merem merasakan nikmatnya pegangan tangan Bik Umi. lalu Bik Umi mulai melepas kancing celanaku dan melorotkanya kebawah. Penisku sudah mulai tegang dan tanpa rasa jijik Bik Umi Jongkok dihadapanku dan menjilati penisku.
"Ach.. Bik.. geli," kataku sambil memegangi rambut Bik Umi.

Bik Umi nggak peduli dia terus saja mengulum penisku, Bik Umi berdiri lalu membuka kancing bajunya sendiri tapi tidak semuanya, kulihat pemandangan yang menyembul didepanku yang masih terbungkus kain kutang dengan ragu-ragu kupegangi. Tanpa merasa malu, Bik Umi membuka tali kutangnya dan membiarkan aku terus memegangi susu Bik Umi, dia mendesah sambil tangannya terus memegangi penisku. Tanpa malu-malu kuemut pentil Bik Umi.

ceritaremajaxxx.blogspot.com
"Ach.. Jun.. terus Jun.."
Aku masih terus melakukan perintah Bik Umi, setelah itu Bik Umi kembali memasukkan penisku kedalam mulutnya. aku hanya bisa mendesah sambil memegangi rambut Bik Umi.
"Bik aku seperti mau pipis," lalu Bik Umi segera melepaskan kulumannya dan menyingkapkan jaritnya yang basah, kulihat Bik Umi nggak memakai celana dalam.
"Sini Jun..," Bik Umi mengambil posis duduk, lalu aku mendekat.
"Sini.. masukkan penismu kesini." sambil tangannya menunjuk bagian selakangannya.

Dibimbingnya penisku untuk masuk ke dalam vagina Bik Umi.
"Terus Jun tarik, dan masukkan lagi ya.."
"Iya Bik" kuturuti permintaan Bik Umi, lalu aku merasakan seperti pipis, tapi rasanya nikmat sekali.
Setelah itu aku menyandarkan tubuhku pada tembok.
"Jun.. gimana, tahu kan rasanya sekarang?" tanya Bik Umi sambil membetulkan tali kancingnya.
"Iya Bik.."jawabku.

Esoknya setiap isi rumah menjalankan aktivitasnya, aku selalu melakukan adegan ini dengan Bik Umi. Saat itu hari Sabtu, kami nggak nyangka kalau Non Lolita pulang pagi. Saat kami tengah asyik melakukan kuda-kudaan dengan Bik Umi, Non Lolita memergoki kami.
" Hah? Apa yang kalian lakukan! Kurang ajar! Awas nanti tak laporkan pada papa dan mama, kalian!"
Melihat Non Lolita kami gugup bingung, "Jangan Non.. ampuni kami Non," rengek Bik Umi.
"Jangan laporkan kami pada tuan, Non."
Akupun juga takut kalau sampai dipecat, akhirnya kami menangis di depan Non Lolita, mungkin Non Lolita iba juga melihat rengekan kami berdua.
"Iya sudah jangan diulangi lagi Bik!!" bentak Non Lolita.
"Iy.. iya Non," jawab kami berdua.

Esoknya seperti biasa Non Lolita selalu bangun siang kalau hari minggu, saat itu Bik Umi juga sedang belanja sedang Pak Ruslan dan Istrinya ke Gereja, saat aku meyirami taman, dari belakang kudengar Non Lolita memanggilku,
"Juun!! Cepat sini!!" teriaknya.
"Iya Non," akupun bergegas kebelakang tapi aku tidak menemukan Non Lolita.
"Non.. Non Lolita," panggilku sambil mencari Non Lolita.
"Tolong ambilkan handuk dikamarku! Aku tadi lupa nggak membawa," teriak Non Lolita yang ternyata berada di dalam kamar mandi.
"Iya Non."
Akupun pergi mengambilkan handuk dikamarnya, setelah kuambilkan handuknya "Ini Non handuknya," kataku sambil menunggu diluar.
"Mana cepat.."
"Iya Non, tapi.."
"Tapi apa!! Pintunya dikunci.."

Aku bingung gimana cara memberikan handuk ini pada Non Lolita yang ada didalam? Belum sempat aku berpikir, tiba-tiba kamar mandi terbuka. Aku terkejut hampir tidak percaya Non Lolita telanjang bulat didepanku.
"Mana handuknya," pinta Non Lolita.
"I.. ini Non," kuberikan handuk itu pada Non Lolita.
"Kamu sudah mandi?" tanya Non Lolita sambil mengambil handuk yang kuberikan.
"Be..belum Non."
"Kalau belum, ya.. sini sekalian mandi bareng sama aku," kata Non Lolita.

Belum sempat aku terkejut akan ucapan Non Lolita, tiba-tiba aku sudah berada dalam satu kamar mandi dengan Non Lolita, aku hanya bengong ketika Non Lolita melucuti kancing bajuku dan membuka celanaku, aku baru sadar ketika Non Lolita memegang milikku yang berharga.
"Non..," sergahku.
"Sudah ikuti saja perintahku, kalau tidak mau kulaporkan perbuatanmu dengan Bik Umi pada papa," ancamnya.

Aku nggak bisa berbuat banyak, sebagai lelaki normal tentu perbuatan Non Lolita mengundang birahiku, sambil tangan Non Lolita bergerilya di bawah perut, bibirnya mencium bibirku, akupun membalasnya dengan ciuman yang lembut. Lalu kuciumi buah dada Non Lolita yang singsat dan padat. Non Lolita mendesah, "Augh.."

Kuciumi, lalu aku tertuju pada selakangan Non Lolita, kulihat bukit kecil diantara paha Non Lolita yang ditumbuhi bulu-bulu halus, belum begitu lebat aku coba untuk memegangnya. Non Lolita diam saja, lalu aku arahkan bibirku diantara selakangan Non Lolita.

"Sebentar Jon..," kata Non Lolita, lalu Non Lolita mengambil posisi duduk dilantai kamar mandi yang memang cukup luas dengan kaki dilebarkan, ternyata Non Lolita memberi kelaluasaan padaku untuk terus menciumi vaginanya.

Melihat kesempatan itu tak kusia-siakan, aku langsung melumat vaginanya kumainkan lidahku didalm vaginanya.

"Augh.. Jun.. Jun," erangan Non Lolita, aku merasakan ada cairan yang mengalir dari dalam vagina Non Lolita. Melihat erangan Non Lolita kulepaskan ciuman bibirku pada vagina Non Lolita, seperti yang diajarkan Bik Umi kumasukkan jemari tanganku pada vagina Non Lolita. Non Lolita semakin mendesah, "Ugh Jun.. terus Jun..," desah Non Lolita. Lalu kuarahkan penisku pada vagina Non Lolita.

Bless.. bless.. Batangku dengan mudah masuk kedalam vagina Non Lolita, ternyata Non Lolita sudah nggak perawan, kata Bik Umi seorang dikatakan perawan kalau pertama kali melakukan hubungan intim dengan lelaki dari vaginanya mengeluarkan darah, sedang saat kumasukkan penisku ke dalam vagina Non Lolita tidak kutemukan darah.

Kutarik, kumasukkan lagi penisku seperti yang pernah kulakukan pada Bik Umi sebelumnya. "Non.. aku.. mau keluar Non."

"Keluarkan saja didalam Jun.."
"Aggh.. Non."
"Jun.. terus Jun.."
Saat aku sudah mulai mau keluar, kubenamkan seluruh batang penisku kedalam vagina Non Lolita, lalu gerkkanku semakin cepat dan cepat.
"Ough.. terus.. Jun.."

Kulihat Non Lolita menikmati gerakanku sambil memegangi rambutku, tiba-tiba kurasakan ada cairan hangat menyemprot ke penisku saat itu juga aku juga merasakan ada yang keluar dari penisku nikmat rasanya. Kami berdua masih terus berangkulan keringat tubuh kami bersatu, lalu Non Lolita menciumku.

"Terima kasih Jun kamu hebat," bisik Non Lolita.

"Tapi aku takut Non," kataku.
"Apa yang kamu takutkan, aku puas, kamu jangan takut, aku nggak akan bilang sama papa" kata Non Lolita. Lalu kami mandi bersama-sama dengan tawa dan gurauan kepuasan.

Sejak saat itu setiap hari aku harus melayani dua wanita, kalau di rumah hanya ada aku dan Bik Umi, maka aku melakukannya dengan Bik Umi. Sedang setiap Minggu aku harus melayani Non Lolita, bahkan kalau malam hari semua sudah tidur, tak jarang Non Lolita mencariku di luar rumah tempat aku jaga dan di situ kami melakukannya.
First
0 Komentar